Mahasiswa UNRI Kembangkan DES Berbasis Minyak Jelantah untuk Hidrogel Selulosa
Pekanbaru, seputarriau.co - Mahasiswa Universitas Riau lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Tahun 2026 untuk mengembangkan Deep Eutectic Solvent (DES) berbasis minyak jelantah dalam mengolah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) menjadi hidrogel selulosa berkelanjutan.
PKM-RE Tahun 2026 merupakan program yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa).
Melalui program tersebut, tim mahasiswa Universitas Riau mengusung penelitian berjudul “Sintesis Deep Eutectic Solvent Berbasis Minyak Jelantah untuk Produksi Hidrogel Selulosa Berkelanjutan dari Tandan Kosong Kelapa Sawit.”
Tim penelitian terdiri atas M. Reza Irawan sebagai ketua, serta M. Fadhlan Alqodri dan Saskia Putri Hanifa sebagai anggota. Penelitian ini memanfaatkan dua jenis limbah yang banyak ditemukan di Indonesia, yakni minyak jelantah dan TKKS. Minyak jelantah dimanfaatkan sebagai sumber gliserol, sedangkan TKKS digunakan sebagai sumber selulosa untuk menghasilkan hidrogel.
Ketua tim penelitian, M. Reza Irawan, mengatakan penelitian tersebut dikembangkan sebagai upaya memanfaatkan limbah menjadi bahan baku material bernilai tambah.
“Kami ingin memanfaatkan dua jenis limbah yang masih memiliki potensi, yaitu minyak jelantah sebagai sumber gliserol untuk sintesis DES dan TKKS sebagai sumber selulosa untuk menghasilkan hidrogel. Melalui penelitian ini, kami berharap limbah tersebut dapat diolah menjadi material yang lebih bernilai dan berkelanjutan.”
Berdasarkan laporan penelitian, TKKS memiliki kandungan selulosa sebesar 45,95 persen sehingga berpotensi dikembangkan menjadi material bernilai tambah. Sementara itu, minyak jelantah terlebih dahulu diproses melalui transesterifikasi untuk menghasilkan gliserol yang selanjutnya digunakan sebagai bahan pembentuk DES.
Dalam prosesnya, gliserol dari minyak jelantah digunakan sebagai Hydrogen Bond Donor (HBD), sedangkan kolin klorida berperan sebagai Hydrogen Bond Acceptor (HBA). Keduanya kemudian disintesis menjadi DES dengan variasi rasio molar 1:3, 1:5, dan 1:7.
Hasil penelitian menunjukkan gliserol yang diperoleh memiliki densitas 1,063 gram per mililiter, viskositas 1,367 cP, dan pH 6,02. Karakterisasi FT-IR juga menunjukkan adanya interaksi ikatan hidrogen antara kolin klorida dan gliserol yang mendukung terbentuknya DES.
DES yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai pelarut alternatif untuk mengisolasi selulosa dari TKKS. Proses isolasi dilakukan pada suhu 90°C dan 110°C dengan berbagai rasio molar DES.
Hasil terbaik diperoleh pada rasio molar kolin klorida dan gliserol 1:7 dengan suhu isolasi 90°C. Kondisi tersebut menghasilkan yield biomassa sebesar 64,25 persen dan kadar selulosa mencapai 68 persen, dengan kadar hemiselulosa 15 persen dan lignin 13 persen.
Selulosa hasil isolasi selanjutnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan hidrogel. Selulosa dilarutkan menggunakan NaOH dan urea, kemudian glutaraldehida digunakan sebagai agen pengikat silang untuk membentuk jaringan hidrogel.
Hasil karakterisasi menunjukkan hidrogel memiliki struktur berpori yang dapat mendukung penyerapan air. Pengujian swelling menghasilkan nilai sebesar 278,66 persen. Analisis EDX juga menunjukkan keberadaan unsur karbon, oksigen, dan natrium pada hidrogel yang dihasilkan.
M. Fadhlan Alqodri, anggota tim, menjelaskan bahwa DES menjadi bagian penting dalam penelitian karena digunakan sebagai pelarut alternatif untuk proses isolasi selulosa.
“DES yang kami sintesis dari gliserol dan kolin klorida kemudian digunakan untuk membantu proses isolasi selulosa dari TKKS. Kami melakukan beberapa variasi untuk memperoleh kondisi yang menghasilkan selulosa terbaik.”
Sementara itu, Saskia Putri Hanifa, anggota tim lainnya, mengatakan selulosa hasil isolasi kemudian dikembangkan menjadi hidrogel.
“Selulosa yang telah diperoleh kemudian digunakan untuk membuat hidrogel. Hasil pengujian menunjukkan adanya struktur berpori dan nilai swelling sebesar 278,66 persen, sehingga hidrogel memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.”
Tim peneliti berharap penelitian yang dilakukan melalui PKM-RE Tahun 2026 tersebut dapat memberikan nilai tambah terhadap limbah minyak jelantah dan TKKS sekaligus mendukung penerapan konsep ekonomi sirkular.
Inovasi ini juga berpotensi dikembangkan sebagai alternatif dalam produksi material hidrogel berbasis biomassa yang lebih berkelanjutan. Selain menghasilkan produk bernilai tambah, penelitian tersebut diharapkan dapat mendorong pemanfaatan limbah rumah tangga dan perkebunan melalui pendekatan teknologi hijau.




Tulis Komentar